Rahasia Keberuntungan (bag 12)


Tulisan Sebelumnya  : Rahasia Keberuntungan (bag 11)

Memberi untuk siapa?

Di pengajaran Kaweruh Jendra Hayuningrat selalu saya singgung bahwa, kita bisa memberi SIAPA SAJA yang membuat hati kita tergerak. Jangan khawatir. Dalam memberi, sebab Anda tidak akan bisa salah. Karena efek atau ganjaran dari memberi yang kita lakukan tidak tergantung dari tindakan orang yang menerimanya.

Tidak peduli uang kita mau diapakan olehnya, itu menjadi tanggung jawab pribadi si penerima. Bukan urusan kita lagi. Mau dibuat gunting rambut, beli rokok, beli pisau, beli sabun mandi atau bahkan mau dibuat beli minuman keras seperti vodka, redwine dll.

Jadi siapapun yang Anda putuskan untuk diberi, tidak akan salah. Semua keputusan yang kita ambil pasti membawa kita ke suatu pengalaman yang akan kemudian membantu kita belajar dan berkembang sebagai akibatnya. Jadi tidak ada hal yang salah yang bisa terjadi di dunia ini. Semua yang terjadi adalah sebuah pengalaman yang dari pengalaman itulah kita belajar. 

Misalnya kita ambil keputusan untuk memberi si A maka kita mendapat pengalaman A dan karenanya belajar A. Kalau kita ambil keputusan B, kita akan mendapat pengalaman B dan karenanya belajar B. A, B, C, D, apapun, semua relatif, tidak ada benar atau salah di sini.
Everything that happens is supposed to happen. Everything in this world has a purpose, even the mistakes you make or the wrong decision you take.
Sekali lagi, agar zakat, infak, sedekah bisa menjadi pembuka rejeki Anda, jangan khawatir tentang siapa yang Anda beri. 

Apalagi bila kegiatan memberi ini Anda jadikan rutinitas untuk menjaga kelangsungan kekayaan dan kesuksesan hidup Anda, maka akan ada begitu banyak kesempatan untuk memberi. Ada begitu banyak kesempatan lain untuk berzakat, berinfaq, bersedekah, dsb. 

Katakan, kali ini Anda memberi sedekah pada si A, dan Anda tidak menyukai pengalaman yang timbul sebagai akibatnya ( uang itu digunakan mabuk-mabukan, beli togel dsb ), maka saat memberi berikutnya, Anda bisa dengan mudah mengubah atau mencari target orang lain untuk diberi. Dari kasus ini kita bisa belajar bahwa, saat kita di beri sesuatu oleh Tuhan, hendaknya apa yang dipercayakan pada kita, sedapat mungkin untuk digunakan sebaik-baiknya. Jika tidak? Maka Tuhan akan mengalihkan pemberiannya itu pada orang lain yang bisa dipastikan, orang tersebut lebih mampu menjaga manfaat dari pemberian Tuhan itu

Yang terpenting ketika memberi, entah itu sedekah, infak, hadiah atau juga zakat, adalah Anda memperhatikan syarat memberi efektif yang telah kita bahas tuntas sebelumnya. Terutama bagian di mana kita merasakan kegembiraan, kesenangan, kebahagiaan, dan keikhlasan ketika memberi. 

Bila emosi positif ini Anda rasakan, maka berilah dia. Bila Anda merasa gembira dengan pemberian Anda, maka sedekah (dan memberi lainnya) benar akan menjadi pembuka rejeki bagi kita. Emosi atau perasaan positif  yang Anda rasakan lebih penting daripada siapa orangnya yang pantas untuk menerima pemberian Anda itu.

1. BERI DENGAN PERASAAN POSITIF

Syarat memberi efektif pertama agar pintu sukses kita terbuka lebar adalah kita harus memberi dengan perasaan positif, dengan hati senang dan benar-benar tulus. 

Untuk bisa melakukan memberi efektif dengan perasaan positif ini Anda perlu berlatih mempercayai insting dan kata hati. Ingat, bahkan yang menggerakkan hatipun adalah Tuhan jua adanya. Dalam pengajaran Jendra, penggerak hati adalah sang Guru Sejati itu sendiri.

Saya dahulu selalu memilih-milih dengan logika, siapa yang perlu saya beri. Tetapi kebanyakan menimbang seperti itu malah menghalangi flow dan good feeling kita, karena kita jadi kemudian terjebak pada banyak prasangka, atau bahkan keragu-raguan. Akibatnya, efektifitas memberi kita terhambat bahkan hilang sama sekali.

Pemberian yang diiringi perasaan negatif seperti cemas, ragu-ragu atau khawatir, seperti ini, tidak akan efektif powernya untuk menggerakkan hukum TEN-FOLD RETURN.
Lebih baik menggunakan petunjuk spontanitas. Misalnya, Anda sudah meniatkan hendak memberi sejumlah uang, tanpa ragu atau pikir panjang, langsung berikan uang tersebut kepada orang pertama yang Anda rasakan ada panggilan untuk memberi. 

Tidak harus kita memberi kepada mereka yang lebih membutuhkan atau lebih miskin dari kita saja. Tidak, kita bisa memberi kepada siapa saja yang menyentuh hati kita tadi. Bisa jadi Anda akan memberi uang ke orang yang tidak Anda kenal walaupun dia bukan pengemis. Atau memberi uang kepada teman sendiri yang selama ini mendukung Anda, walaupun dia tidak membutuhkan bantuan sepeserpun atau yang bahkan secara ekonomi lebih mapan dari kita. Bisa juga pada orang yang sedang menuntun sepeda motornya yang ban-nya sedang kempes, namun saat melewati tukang tempel ban tapi dia tidak berhenti.

Esensi dari memberi adalah menunjukkan kepada TUHAN bahwa kita yakin akan janji-NYA. Kita yakin akan kekayaan, kebesaran dan kemaha-kuasaan TUHAN. Kita tunjukkan bahwa kita sepenuhnya beriman akan fakta bahwa TUHAN pasti menjaga kita dalam kondisi apapun. Sehingga kita tidak takut berpisah dengan uang atau harta kita, karena kita dipelihara oleh yang memiliki segalanya. 

Itu intinya. Dan kalau kita yakin kepada-NYA, maka kita tidak akan merasa bersedih hati, takut, khawatir atau ragu sama sekali, kan? Kita akan merasa positif tentang memberi ini. Sedangkan perasaan poritif adalah hal pertama dalam syarat memberi efektif kita. Untuk meningkatkan pikiran positif kita, hendaknya kita perbanyak membaca buku-buku positif lainnya. 

Ikuti terus blog ini, jika Anda merasa termotivasi, segera share atau bagikan alamat blog ini untuk orang terdekat Anda. Jangan tinggalkan blog ini, sebab saya segera melanjutkan tulisan saya di bagian 13. Salam Kejawen _()_ Salam Rahayu

segera!! melanjutkan tulisan saya di bagian 13.
Posting Komentar