Rahasia Keberuntungan (bag 11)

Tulisan Sebelumnya : Rahasi Kerberuntungan (10)


“THE GREATEST MONEY MAKING SECRET IN HISTORY” karya Joe Vitale

Sesudah membaca buku itu semalaman, keesokan harinya saya berikan satu lembar uang Rp.50.000an, satu-satunya milik saya saat itu, kepada orang pertama yang menggerakkan hati saya untuk memberi pada hari itu. 

Kebetulan orangnya adalah anak dari murid saya sendiri, yang pagi itu bermandikan keringat ketika menyelesaikan pekerjaannya membantu ayahnya di sawah.
Sebelumnya saya tidak pernah memperhatikan hal ini, biasanya saya selalu berpikir, "Wajarlah dia kalau bekerja keras. Itu kan memang sudah pekerjaannya. Kalau mau sukses, ya memang harus mau kerja keras, dan toh kalau waktunya panen padi sudah tiba, yang dapat bagian dari juragannya juga dia sendiri."
Sebelumnya saya lupa, bahwa kalau dipikir-pikir saya saja yang berpenghasilan 5 kali lipat darinya masih (merasa) kekurangan, apalagi dia yang hanya anak dari seorang buruh tani.

Saya juga tidak paham pada saat itu, kalau bekerja keras memang salah satu kunci sukses, seharusnya para kuli bangunan, pembantu rumah tangga, dan tukang becak memiliki taraf hidup lebih nyaman dari saya.
Setiap hari, mereka, para buruh, pembantu dan kuli batu jungkir balik tiada henti-hentinya bekerja keras, tiada habisnya melayani kemauan majikan mereka, dari bangun tidur sampai tidur lagi. 

Maka saya dengan ihklas tarik lembaran uang Rp 50ribu tadi dari dompet dan saya berikan padanya. Jumlah sedekah paling besar yang pernah saya berikan pada seseorang di luar keluarga saya pada saat itu.
Saya merasakan bahagia luar biasa pada waktu itu, air mata haru nyaris tidak terbendung ketika melihat mata anak murid saya terbelalak melihat uang yang saya sodorkan untuknya, dan saya melihat senyum bahagia terpancar di raut wajahnya sesudah itu. 

Alangkah senangnya hati saya saat itu. Bisa membuat orang lain berbahagia. Saya berpikir mungkin ini yang disebut sebagai imbalan berlipat ganda. Sebuah perasaan nikmat dan bahagia yang tidak ternilai karena telah membahagiakan orang. 

Tapi ternyata saya salah lagi, imbalan 10 kali lipat yang dijanjikan Tuhan itu, bukan ibarat, peribahasa atau metafora saja. Tapi benar-benar nyata, konkrit dan real. Meskii, tidak selalu langsung diberikan-Nya pada saat itu juga.

Kira-kira hanya seminggu berselang, saya mendapat surat dari manajeman bisnis MLM yang saya tekuni saat itu dan lambat sekali pergerakannya (seret), bahwa tiba-tiba transaksi grup saya melonjak naik. Sehingga bulan itu saya mendapat pasif income dari komisi sejumlah, berapa coba tebak?, benar, angkanya sekitar itu. Tepatnya Rp. 515.750,-. Itu jumlah komisi bersih yang saya terima dari hasil grup bulan itu. (Sepuluh kali lipat dari sedekah saya jedah seminggu dari sebelumnya). 

Coba bayangkan, setelah dua tahun bergabung, dan tidak pernah mendapat hasil selain dari selisih harga beli dan jual produk, bulan itu saya dapat komisi awal sebagai pasive income saya, benar-benar sebuah penghasilan pasif  hingga saat ini sudah memasuki tahun ke 5 saya menerimanya.

Dan walaupun saat itu akhir bulan, uang sudah sangat menipis di dompet saya, (uang paling besar sudah saya berikan pada anak murid saya), ternyata kami sekeluarga masih bisa makan seperti biasa. Ada saja caranya. Kantin mie ayam kami minggu itu juga mendadak jadi ramai sekali pengunjungnya dan penghasilan tidak terduga kami sangat-sangat lumayan. 

Tuhan benar-benar sudah mengatur semuanya untuk menjaga siapa saja yang mempercayai-Nya. Nah itu awalnya. Sesudah tahu satu "rahasia kecil" ini, tidak terbendung lagi aliran kran rejeki saya. Tapi dengan satu catatan, bahawa saya tidak pernah berhenti memberi.
Karena, sekali kita berhenti memberi, maka aliran rejeki itu juga akan tersendat lagi.

Anda akan selalu mendapat lebih banyak

Semakin banyak Anda memberi, semakin banyak yang akan Anda terima. Berasal dari hitung-hitungan bodoh  kita tadi, paling tidak 10 kali lipatnya yang akan kembali kepada kita.
Coba, mana ada investasi lain yang memberikan pengembalian lebih besar dari ini? Yang mendekati saja tidak ada. 

Nah, karenanya, rahasia inilah yang harus dipahami siapapun yang ingin menaikkan kesejahteraan ekonominya. Siapapun, miskin atau kaya, kalau ingin kaya atau makin kaya, harus mau (berani) memberi.
Karena betapapun miskinnya mereka, mereka akan terus miskin, atau bahkan semakin miskin, selama mereka masih belum berani memberi. Belum berani memberi, secara spiritual, sama artinya dengan belum siap mengakui kekayaan Tuhan, yang berarti belum siap juga menerima kekayaan dari-NYA.
Anda tidak perlu memberi banyak. Karena berapapun yang Anda berikan, akan dikembalikan kepada Anda
10 kali lipat.

Dengan memakai hukum ini, penghasilan Anda yang kecil justru akan jadi membesar bila diberikan. Katakan penghasilan harian Anda cuma Rp. 20.000,- atau kurang, Anda bisa-kan?menyisihkan barang seribu rupiah untuk memberi orang lain? 

Anda harus mampu berpikir bahwa Anda kaya serta sanggup memberi, maka Tuhan akan mempercayakan kepada Anda jumlah kekayaan yang lebih besar lagi. Jadi semakin banyak kita memberi, semakin banyaklah yang kembali kepada kita. Ikuti terus blog ini, jika Anda merasa termotivasi, segera share atau bagikan alamat blog ini untuk orang terdekat Anda. Jangan tinggalkan blog ini, sebab saya segera melanjutkan tulisan saya di bagian 12.

Salam Kejawen _()_ Salam Rahayu

Tulisan Berikutnya :  Rahasia Keberuntungan (bag 12)
Posting Komentar