Rahasia Keberuntungan ( bag 10)

Mudah-mudahan Anda tidak terjebak kesalahan seperti yang pernah saya lakukan dahulu selama bertahun-tahun.
Karena saya dibesarkan di keluarga yang pas-pasan nilai perekonomiannya, kekurangan dalam keuangan 'mentalitas miskin' atau  poverty consciousness atau  poverty mentality di mana saya merasa selalu kekurangan dan takut tidak pernah berkecukupan. 

bukanlah sesuatu yang luar biasa bagi saya. Singkat cerita, kondisi ini memupuk saya untuk memiliki

Saya tumbuh menjadi orang yang cenderung 'pelit' karena merasa tidak punya. Saya selalu takut memberi, takut meminjamkan, takut berpisah dengan uang atau apapun yang menjadi hak miliki saya. Saya sangat pintar sekali mencari alasan untuk tidak memberi, dengan dalih saya sendiri dalam kondisi lebih membutuhkan bahkan mungkin memang benar begitu. Ternyata sayalah orang paling miskin di dunia apabila cara berpikir saya seperti itu. 

Karena, ternyata semakin saya mencoba menahan uang yang saya miliki, entah dengan menyimpannya, menabungkannya, menghitung-hitungnya, menahan diri tidak membeli apa-apa walau sangat menginginkannya, atau selalu membeli barang termurah kalau memang terpaksa harus beli/memiliki, ternyata semua itu justru semakin mengantarkan hidup saya ke jurang kemiskinan. 

Parahnya lagi, saya pun takut memberi sedekah atau infaq atau sekedar bantuan/sumbangan. Saya selalu berpikir, "Lha, keluarga saya saja masih kekurangan,  kok malah memberi orang lain. Cukupkan dulu dong kebutuhan keluarga, baru pantas berbagi. Setiap tahun zakat yang saya bayarkan hanyalah zakat fitrah yang cuma 2,5 kg beras itu. Kadang anak dan istri saya saya abaikan. Boro-boro Zakat harta? 

Kan saya beralibi, bahwa  harta milik  saya belum memenuhi ambang batas harta yang harus dizakati. Setiap kali ada yang meminta sumbangan, pikiran saya selalu negatif, berprasangka buruk bahwa uangnya bisa jadi akan diselewengkan oleh peminta sumbangan, sehingga saya memilih untuk tidak menyumbang. 

Demikianlah saya menjalani hidup,sudah bertahun-tahun lamanya. Tetapi bertahun-tahun pula hidup saya seperti itu, tidak ada berubah. Begitu terus, miskin terus. Hidup dari satu gajian ke gajian berikutnya. Di saat tengah bulan gaji sudah habis dan bahkan harus cash bon atau meminjam gaji bulan depan. Rumah untuk tinggal kontrak sana-kontrak sini.

Setiap pengeluaran yang dianggap pemborosan selalu menimbulkan keributan dan pertengkaran, membuat suasana rumah tangga gerah. Alangkah malangnya nasib orang yang miskin harta, namun juga memiliki "mental miskin" pula seperti saya ini. 

Sampai suatu hari, saya menemukan buku berjudul “THE GREATEST MONEY MAKING SECRET IN HISTORY” karya Joe Vitale, yang dibagikan gratis di internet.
(Anda pasti tahu, orang yang selalu merasa kekurangan uang seperti saya ini, pikirannya pasti tidak akan pernah berhenti berputar mencari cara mendapat uang lebih banyak lagi.) Jadi judul bukunya “RAHASIA CARA MENDAPATKAN UANG TERBESAR DI DUNIA” ini pastilah menarik perhatian saya. Apalagi karena gratisan. Lumayan gak perlu keluar modal.

Ternyata, tidak seperti dugaan saya. Buku itu tidak mengajarkan “satu formula bisnis” konvensional seperti yang saya bayangkan.
Sebaliknya, buku itu mengajarkan sesuatu yang menjungkir-balikkan semua yang selama ini saya percaya dan telah saya lakukan. Betapa malunya saya membaca buku itu, tapi sekaligus seperti kepala saya diputar, untuk ditunjukkan, ke arah benda yang selama ini saya cari di arah yang salah.
 Memberi, inilah yang membuat Anda jadi kaya
Ternyata, uang itu seperti aliran susu ke dalam gelas yang memiliki batas volume. Katakan batasnya 300 cc, setelah terisi sejumlah itu, maka gelas itupun telah penuh, dan tidak bisa diisi lebih banyak lagi.
Kalau sesudahnya, susu dalam gelas tersebut disimpan saja agar awet, maka kita tidak akan bisa mengisikan lagi susu segar yang baru ke dalamnya. 

Bahkan, bila tidak juga diminum, disayang sayang dan disimpan-simpan, susu yang ada di dalamnya akan basi dan akhirnya malah terbuang sia-sia.
Inilah perumpamaan orang yang sungguh takut berpisah dengan uangnya, entah dengan alasan apapun, yang pada akhirnya malah kehilangan kesempatan menikmati kehidupan ini. 

Bukankah sebagai orang beriman kita percaya pada hukum-hukum Tuhan? Tuhan sudah berjanji memberikan imbalan pada semua pemberian kita bukan? Apa yang membuat kita takut memberi, segawat apapun itu situasi keuangan kita? 

Barang-siapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala/imbalan sepuluh kali lipat amalnya. ~   Qur'an: Surat Al An'am: 160   ~

Bukankah kita percaya bahwa kekayaan Tuhan, Yang Maha Kaya, Sang Pencipta Alam Raya ini tidak terbatas? Setiap saat gelas kita kosong, kita bisa minta Tuhan untuk terus mengisikannya kembali. Dan Tuhan pasti mengisinya kembali, Dia sudah berjanji. 

Bahkan ketika Tuhan melihat bahwa gelas 300 cc tadi rupanya tidak cukup memenuhi kebutuhan kita yang suka sekali minum susu dan dengan rajin menghabiskan-nya kembali semua isi gelas susu yang diberikan-NYA kepada kita, Tuhan pasti akan segera menggantikan gelasnya dengan yang berdaya tampung lebih besar lagi. Inilah yang diajarkan Kaweruh Jendra Hayuningrat kepada murid-muridnya, “kalau ingin kaya, besarkan dahulu bejananya.”

Kita bisa terus menikmati susu segar kita, setiap saat, asal kita tidak takut bahwa kita tidak akan mendapatkan  jatah susu itu lagi. Tidak perlu disimpan-simpan untuk besok. Stok di dapur masih banyak.
Ini salah satu penjelasan yang masuk akal, kenapa para milyuner (apalagi yang memiliki wealth consciousness, yang benar benar bermental kaya), tidak kemudian jatuh miskin meskipun mereka tiada henti-hentinya mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak pula.

Memberi mengaktifkan kran rejeki
Setelah mengetahui semua itu, saya malu sekali dihadapan Tuhan. Saya malu pernah berpikir bahwa kalau saya memberi nanti, saya justru tidak kebagian sisanya. Saya malu kepada Tuhan karena saya sempat berpikir Dia kurang Adil dan tidak menyayangi saya, karena hanya bisa memberi jata pada saya dengan harta yang tidak seberapa banyaknya. Rupa-rupanya gelas susu saya masih penuh dengan susu basi selama ini, sehingga Tuhan tidak bisa menuangkan susu segar buat  saya dengan jumlah lebih banyak lagi. Tuhan masih menunggu saya mengosongkan gelas saya. Kalau tidak, maka susu yang masih segar dari Tuhan akan ikut basi karena terkontaminasi susu basi yang ada di gelas tersebut.

Ikuti terus blog ini, jika Anda merasa termotivasi, segera share atau bagikan alamat blog ini untuk orang terdekat Anda. Jangan tinggalkan blog ini, sebab saya segera melanjutkan tulisan saya di bagian 11. 
melanjutkan tulisan saya di bagian 11.  
Salam Kejawen
 _()_ 

Posting Komentar